Selama 2 tahun saya mengikuti serangkaian acara kaderisasi, selalu saya menjadi sosok yang tidak disukai, saya memang menyebalkan, bagi mereka yang melihat saya sebentar. Saya memang beraut sangar, bagi mereka yang belum mengenal. Tapi bagi mereka yang sudah lama melihat dan mengenal saya, tetap saja saya menyebalkan dan sangar. ;) Saya tidak suka sok - sok beramah tamah pada orang yang baru saya kenal, karena sudah barang tentu orang yang baru berkenalan pasti sekilas tampak baik, saya lebih suka menunjukkan bahwa saya tidak mudah ber “lalalala” dengan orang baru. Sahabat - sahabat terbaik saya sekarang dulunya justru orang - orang yang tidak menyukai saya karena pandangan awal mereka terhadap saya. Iya, saya memang memasang tampang “nantang gelut” (istilah dalam bahasa jawa yang artinya ngajak berantem) kemana - mana. Justru saya menampakkan diri saya yang tidak menyenangkan kepada orang - orang baru. Karena apa? Karena saya tidak mau mereka berteman dengan saya karena mengira saya orang baik lalu mereka kecewa pada akhirnya ketika mengetahui siapa saya sebenarnya yang ternyata ngeselin dan minta ditabok. Dan mereka, sahabat - sahabat saya itu, adalah orang - orang yang penasaran dengan orang menyebalkan ini yang kemudian mereka berusaha mendekati saya untuk (mungkin) lebih mengenal saya. Dan kepada mereka yang berani majulah saya tampakkan apa adanya, bukan saya yang sok galak, bukan saya yang sok baik, bukan saya yang sok bijak, bukan pula saya yang sok - sokan. :p Kekurangan sayalah yang berusaha saya tampakkan, karena saya menyukai seorang teman yang bisa menerima kekurangan temannya sejak awal, jika dari semula mereka tau kekurangan saya dan mereka masih mau berteman dengan saya, itu artinya mereka mau menerima kekurangan saya dan mau menerima saya meski saya orang yang tidak menyenangkan. Tapi jika mereka hanya tau kelebihan - kelebihan saya, lalu suatu ketika mereka menemukan kekurangan saya, belum tentu mereka mau menerima. Menurut saya, pertemanan seseorang karena kelebihannya tidak akan lebih tulus dari pertemanan seseorang karena kekurangannya. Sedikit bercerita, pernah saya mendapati seseorang yang berteman dengan teman saya, sebut saja X dan Y. Mereka baru saja berteman, namun mereka sudah tampak sangat akrab. suatu ketika, X meninggalkan teman saya Y entah atas dasar apa, saya kurang tahu, lalu Y mengetahui kejelekan - kejelekan X, dan mereka akhirnya saling membenci karena menganggap pertemanan mereka selama ini palsu. Saya tidak mau seperti itu, saya tidak mau mempunyai teman palsu, saya mau teman asli (bukan buatan china :p), yang saling melengkapi dan tau kekurangan masing - masing tanpa menuntut apapun. Pertemanan saya sederhana namun dalam, saya tidak punya banyak teman karena saya memang pemilih. Saya tau nama - nama banyak orang tapi sedikit dari sekian banyak nama itu yang saya jadikan teman. Dan bait tulisan diatas merupakan bukti dari salah satu kekurangan saya.
1311.2011.0451
Ake benar - benar tidak bisa lagi berkutik, mendengar apa yang telah ia sampaikan kepadaku, mendengar fakta dan pemikirannya yang sungguh membuatku kagum.
Wahai engkau, taukah kau bahwa aku menyayangimu?
Taukah kau bahwa aku mengucap namamu dalam doaku?
Entah kau tau atau tidak, aku tetap menyayangi dan mendoakanmu. Entah kau tau atau tidak.
Berawal dari ketertarikanku pada sosokmu yang berbeda. Tidak seperti laki - laki disana yang terlalu mengejar -ngejar cinta wanita. Kau mengejar cinta Rabbmu, kau pdkt tidak dengan seorang wanita yang haram untukmu tapi kau pdkt dengan Tuhanmu. Kau semakin mendekatkan dirimu dengan Tuhanmu.
Kau tau, sekalipun aku belum pernah menyukai orang sepertimu, seperti dirimu. Bisa dibilang kau BUKAN tipeku. Sebelumnya aku menyukai orang yang jauh berbeda denganmu, namun kau, dengan cintamu pada Tuhan yang kau sembah, membuatku jatuh hati. Kau membuat aku mengharapkan dirimu.
Namun aku berkaca pada diriku sendiri, sudah cukup pantaskah aku untukmu? Pantaskah aku bersanding denganmu yang sangat dekat dengan Tuhanmu?
Sedikit demi sedikit aku memperbaiki diriku, aku berbenah, aku mulai menutup auratku meski belum sesuai dengan apa yang seharusnya. Aku belajar sedikit demi sedikit untuk mwmbuat diriku menjadi lebih baik, membuat diriku sepadan denganmu, membuat aku pantas untukmu.
Wahai engkau zat yang aku sayangi, tunggulah aku menjadi wanita yang pantas untuk kau imami, menjadi wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak. Aku akan berjalan di jalanku untuk kemudian berjumpa denganmu di waktu yang tepat.
Aku menyayangimu meski aku tidak tau apakah kau menyayangiku atau tidak, aku mencintaimu meski aku tau aku belum pantas untuk berada disampingmu. Namun aku terus mengaharap Tuhanku mejadikanmu takdirku.
Dan semalam, 12 November 2011,
Kau mulai menanyakan hal – hal mengenai hubungan kita, mengenai kisah kasih sepasang manusia. Kau mulai menanyakan hal itu. Namun tak kunjung sebuah kata yang ingin kudengar terlontar dari mulutmu.
Hingga pagi ini, Minggu, 13 November 2011 pukul 04.51,
Kau pun mengatakan semua yang ingin kudengar, kau benar – benar mengatakannya. Kau yang menyayangiku sejak kita lulus SMA, kau menyayangiku hingga sekarang. Lebih dari setahun berlalu dan kita jarang berjumpa dan kau masih menyayangiku.
Aku menitikkan air mata ketika itu, ketika kau, zat yang aku sayangi menyayangiku, ternyata selama ini aku tidak bertepuk sebelah tangan. Kita saling menyayangi meski kita tidak berkata. Aku menyayangimu meski aku tidak mengatakannya kepadamu dan kau merasakan itu, aku tau kau dapat merasakan apa yang aku rasakan padamu. Kau mengerti bahwa aku menyayangimu tidak dengan kata. Tidak dengan ucapan – ucapan gombal yang biasa terlontar dari mulut orang yang sedang jatuh cinta.
Dan kau, meski aku merasa bahwa kau menyayangiku, aku tidak mampu dan tidak berani untuk mempercayainya jika itu tidak terlontar dari mulutmu. Meski segala sikap yang kau tunjukkan adalah bukti kau menyayangiku, aku tetap menginginkan sebuah kalimat.
****
Semua yang kau lontarkan pagi ini menghenyakkanku, semua yang ada di pikiranku ternyata benar. Kau sungguh tidak terduga.
Engkau, tidak memintaku untuk menjadi wanitamu setelah kau mengatakan kau menyayangiku, tentu aku bertanya padamu, apa yang sesungguhnya ada dalam pikiranmu? Lalu kau dengan segala wibawa dan cinta kasihmu pada Zat Maha Agung menjawabku dengan kebijaksanaanmu,
· “Jika aku menjadi pendamping hidupmu, mungkin aku belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan, aku masih butuh belajar, biarlah waktu tetap berjalan. Aku takut dan benci pada istilah putus pacaran, karena menurutku itu sama dengan bercerai. Kamu tau amalan apa yang Allah ridhoi dan Allah benci? Oleh karena itu, lebih baik kita berteman, karena dengan berteman kita bisa memperkuat ukhuwah islamiyah kita. Seandainya Allah SWT mengijinkan aku untuk menjadi pendamping hidupmu, ya itu pasti terjadi. Tapi jika Allah tidak meridhoi, itu sudah menjadi kehendak Allah yang tercatat di Lauh Mahfudz. Jika kamu menyukai seseorang yang bukan aku, tidak apa – apa, aku mengucap alhamdulillah karena kau sudah menemukan pendamping hidupmu. Sesungguhnya aku bersyukur dan cukuplah aku bisa mengenalmu dan berteman akrab denganmu.”
Aku menitikkan air mataku, terimakasih Tuhan, Engkau mempertemukan aku dengan orang yang sungguh mencintaiMu diatas segalanya. Ia tidak ingin melanggar syariatMu. Terimakasih Engkau telah membuat hatiku jatuh pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, yang aku yakin dia akan menjadi imam yang baik untuk pendamping hidupnya kelak.
Tuhan, jika memang dia adalah orang yang Kau kirimkan untukku, jagalah hatinya agar terus berada di jalanMu, agar ia selalu mencintaiMu, agar ia semakin dekat denganMu, agar ia selalu merindukanMu dimanapun ia berada, agar ia tidak lalai dalam menjalankan syariatMu. Dan jagalah hatiku untuk tidak merindukannya melebihi rinduku padaMu, dan jagalah rinduku padanya agar aku tidak melupakan cinta yang haqiqi yang hanya padaMu.
Aku tidak menginginkan ia yang sekarang haram untukku, aku tidak mau kami berda di jalan yang bukan jalan yang Kau ridhoi. Maka pertemukanlah kami dijalanmu kelak Ya Allah, pertautkanlah hati kami dan eratkan dengan cinta kasihMu, dengan cinta abadi seorang hamba pada Rabbnya bukan cinta semu yang akan membuat kami masuk dalam jurang kenistaan.
13
TIGA BELAS HARI TIADA KABAR, TIGA BELAS HARI TAK MENDENGAR SUARA BERAT DAN TAWA, TIGA BELAS HARI TAK MENCIUM AROMA TUBUH, TIGA BELAS HARI MERINDU.
bukan untuk sembarang hati - she
aku cinta mati padamu
takkan sanggup aku tanpamu
bahagiamu itu bahagiaku
dan setiap air mataku
itulah juga kesedihanku
aku cinta mati padamu
jangan pernah meragukanku
terlalu dalam cintaku ini
mungkin aku bisa mati
bila harus kehilangan dirimu
bukan untuk sembarang hati
aku katakan ini
sungguh aku cinta kamu
bukan untuk smbarang hati
hingga nafas berhenti
aku rela berlelah untukmu
ANGKA TERBAIK … :)
UNTUK LUSETYA LISNANDANI
Untuk kali kesekian, aku melewatkan kesempatan. Menyesal? Entahlah .. Dulu selalu percaya akan adanya kesempatan kedua, ketiga, dan kesekian. Tapi untuk masalah seperti ini, adakah kesempatan lain? Beberapa minggu yang lalu aku mimpi, dan belakangan ini, mimpiku seolah terjawab satu persatu. Tapi, selalu saja ada sesuatu yang menyebabkan sesuatu terjadi. Analisis demi analisis demi menjawab jutaan kata yang melayang dalam otak. Tapi kita tak selalu bisa ideal, ada standard error yang kadang menyebabkan sesuatu bergeser dari yang seharusnya. Berkata seharusnya, benarkah ada kalimat seharusnya? Seharusnya, aku melakukan ini. Seharusnya aku tidak begitu. Seharusnya aku bisa mengerjakan hal hal ini. Seharusnya semuanya berjalan seperti ini. ?? Siapa aku? Tidak pantas sekali berkata demikian! Aku tak secuil pun untuk bisa berkata demikian, aku punya Zat Maha Besar yang hanya Dialah yang pantas menentukan. Jadi, tidak lagi kata “seharusnya” yang terucap, melainkan kata “kehendak-Nya” memang demikian. Kembali ke mimpiku yang wajar namun sulit terlaksana, bagaimanakah? Sebelum kata seharusnya terucap, lebih baik lakukan dulu apa yang HARUS dilakukan. Kesempatan, aku kira akan selalu ada untuk orang sepertiku. Yang selalu mengaharapkan kesempatan datang. Dan yang selalu mengejar kesempatan. Melakukan segala sesuatu yang kuinginkan asalkan itu tidak melanggar hak asasi orang lain, akan selalu kulakukan. Apapun. Dan kau adikku sayang, percayalah bahwa akan selalu ada kesempatan untuk orang – orang seperti kita. Akan selalu ada kesempatan untuk insan yang tak menyerah. Percayalah adikku. Special for, Lusetya Lisnandani Gadis kecilku yang manis
sempurna karena ketidaksempurnaan
Belakangan ada orang yang mengalihkan pandanganku. Entah karena kami sering berjumpa atau apa. Tapi orang itu, yang cukup lama kukenal, hampir setahun tepatnya, sedang sering sekali masuk sadarku.
Sehari saja tidak berjumpa, kurasa ada sesuatu yang belum kulakukan, hahaah.. iya.. melihatnya. Kini melihatnya merupakan suatu kewajiban yang harus kulakukan. ebusett.. ohohohoh
Dia yang tampak apa adanya dan tak berusaha menutupi lemahnya, kulihat begitu memesona. Menawan sebagai ukuran pria yang kini betebaran dimana mana.
Ia punya mata yang begitu indah, mata yang tajam yang kadang aku pun takut untuk menatapnya. Mata yang menyiratkan berbagai hal yang tak mampu kutafsirkan. Mata yang penuh arti yang tak bisa kuartikan dengan mudah. padahal aku kira aku cukup pandai membaca gerak gerik orang, tapi untuk makhluk seperti dia, entah kenapa sulit kutafsirkan dan kumengerti.
Penasaranlah yang membuatku ingin mendekat, mendekat, dan mendekat. Penasaran untuk tau tentangnya lebih dari orang lain. Dia yang begitu berbeda dengan keunikannya. Dia yang mengagumkan dengan segala kelemahannya. Dia yang sempurna karena ketidaksempurnaannya.
Aku bersimpati padanya, aku mengaguminya, dia memang mengagumkan. Akan tetapi, aku belum tentu meyukainya. Dia memang mengganggu pikiranku, tapi belum tentu juga aku rela berkorban untuknya.
Tahapku kali ini belum seberapa, tahapku baru sampai pada tingkat kekaguman pada sosok manusia yang sempurna karena ketidaksempurnaan.
untuk selebihnya, aku masih menjaga hatiku, untuk seseorang disana yang masih kuanggap lebih dari segalanya. ;)
:)
Saya tau, tidak semua orang menyukai saya. Diluar sana banyak orang yang membenci saya. Tapi, saya hanya akan menjadi diri saya. Maaf.
satu empat tiga dua nol satu satu
Seusai kelas AR yang hanya absen dan beberapa pengumuman, aku bingung hendak kemana. Tidak terbiasa pulang sore jadi begini. Pusing malah kalau pulang sore. Setidaknya pulang menjelang maghrib atau setelah maghrib sekalian saja.
Besok padahal ada ujian statistik jam 3. Seharusnya aku belajar, tapi malah online dan curhat begini.
Ingin menceritakan sesuatu, sesuatu yang membuatku berpikir ulang. Lagi - lagi masalah perasaan. Iya, perasaan. Sampai aku lelah kalau membicarakan perasaan terus.
Kemarin aku terpikir akan seeorang, yang jauh disana, dengan perbedaan wilayah bahkan propinsi memisahkan kami. Aku menelponnya, ia sedang sakit ternyata. Ingin sekali berada disana, merawatnya. Membuatkannya bubur, menyuapinya dengan obat yang diberikan dokter, mengatur makannya, melarangnya melakukan sesuatu yang tidak boleh ia lakukan demi kesehatannya. Aku ingin sekali melakukan itu.
Intinya, merawatnya, berada disampingnya.
Bagiku, aku berada disisinya saat ia membutuhkanku, itu sudah sangat bagus. Bagus sekali.
Tapi tetap saja, jarak menjadi penghalang, kami puny acita - cit akami masing - masing.
Jalan kami berbeda, aku ingin ini, dai ingin itu, ingin kami tak sama dalam menggapai masa depan. Definisi sukses menurut kami pun berbeda, bagiku sukses adalah berhasil membuat orang lain turut sukses, tapi baginya, sukses adalah menjadi orang yang berguna bagi negara.
Sebenarnya aama saja, hanya jalan sukses kami berbeda. Suksesku belum tentu sukses untuknya.
Kembali ke kondisinya yang sedang tidak sehat, Suaranya tampak aneh, tapi dia hanya berkata, aku sedang tidak enak badan.
Tetap saja dia mendengarkan celotehku yang tak penting, dengan sabar ia melayani dan menjawab setiap tanyaku. Aku sebenarnya tak tega, tapi mau bagaimana? hampir maghrib, aku tidak mau dai malah ketiduran,. setidaknya sholat maghrib dulu sebelum tidur..
Karena kehabisan kata, akhirnya dia malah bercrita tentang seseorang yang dulu selalu menemunya untuk mengetahui kabarku. yeee
Apa - apaan? aku kesal sekali, sudah 3 tahun berlalu, tetap saja orang yang dia bicarakan adalah orang itu, aku sudah tidak memikirkannya,. tolong jangan bahas orang itu lagi.
Yang ada dipikiranku saat ini cuma kau, kau! Dasar keras kepala. Sifat kita yang sama memang sulit untuk sling menyatu, tak ada yang mau mengalah. Ada sedikit masalah saja bisa bertengkar sampai satu bulan. hahhah
Sudahlah, itu unikmu, aku menyukai orang sepertiku, makanya aku menyukaimu.
Tetaplah kau seperti itu agar aku terus suka. ;)